3/12/2012

Hari Untuk Terkasih .. Episode I...

0

14 Februari 2012

                Masih saja beragam ucapan terbaca, sayang, cinta serta kasih yang hanya terungkap oleh ucap, nyatanya masih banyak sayang terbuang alih alih telah habis batas kesabaran. Hanya pada waktu ku ekorkan kisah ini, perihal sayang yang diucapkannya karena amarah lalu yang tiada sengaja ucapnya, hingga terlempar tangisan duka disudut kesedihan itu. 

HARI UNTUK TERKASIH
                    Benar, aku tak pernah peduli dengan sekelilingku, karena aku telah cukup letih dengan diriku. pun benar aku tak cukup kasih yang mampu kuberikan pada tiap jiwa yang menaruh kasih padaku karena keterbatasan diriku sebagi insanNya. Namun hariku, waktuku hingga jiwa dan ragaku tak pernah untukku. semua teruntuk isi bumi yang berarti dalam hidupku. 
                Tubuh yang lemah ini tentu tak kan kokoh menopang semua kewajiban di bumi ini, namun kubisakan hingga kulihat sebilah senyuman mengukir indah dibelahan alam yang kutau telah renta terjemput usia. sepertihalnya hari ini, sayu kulihat rerumputan itu berdiri dalam lemahnya. mungkin jika bisa ingin ia berucap
aku tak tua
namun aku menjadi tua
aku tak mengerti
namun aku menjadi mengerti
aku di sini
namun aku tak ingin disini
Rintihankah? entahlah. semua kulihat sama, langit itu bersemu, ketika hujan kembali mencumbui bumi tak lagi kulihat pelangi mampir memperindah langit, masih berduka atau benar lagi tak peduli atau tak ingin peduli lagi. pohon itupun urung kokoh lunglai terbawa angin, angin yang sama beberapa tahun lalu tak membuatnya gentar namun hari itu roboh membawa jiwa-jiwa penghancurnya, dendamkah? apa yang terjadi saat ini??
         " Sudah lah Nak, tak habis masalah dunia ini jika kau berpikir keras pun untuk mereka, istirahatlah" rintih ibu ketika mendapatiku menatap penuh di bibir jendela tua rumah nenekku.
           "ya bu" ucapku.
          Senja itu ku turutii, ketika malam ingin mengganti peran, ya benar ini lah hidup dan mungkin sebatas inilah hidupku. 
            
***
            14 februari 2012, hari ini hatiku hanya bisa berkata "pasti akan usai, bersabarlah" yah hanya sabar yang menguatkan hidupku, mempertahankan usiaku menunggu waktu untuk kembali.
"indah kata tuk terkasih, buah rupanya bermuara kedamaian" suara itu indah, ya seperti biasa, ku hanya bisa mengaguminya. Karena ia hanya mengudara menebarkan bahagia, bukan untuk aku yang hanya akan memberikan luka. Mendengar suara-suara indah di Radio usang yang kumiliki, ingin hari ini kulakukan sesuatu tapi apa? waktuku rasanya tak kan cukup.
" hahaha, sedih aja pake' di tawar-tawar, ambil sendiri aja dech" kembali canda itu memulangkan garis senyum di wajah lusuh ini. Duh Gusti akankah ku mampu turut hadirkan gembira itu walau sejenak dalam hidup gadis bersuara indah disebrang sana???
"Nak, kenapa lagi denganmu? jangan lah kau larut dalam dukamu, ingat nanti ibu kan membawamu bertemu dokter spesialis kangker di daerah ini " tutur lembut ibuku, yang mengembalikanku pada ingatanku untuk tetap sehat untuknya, ibuku.
"tak apa, jangan khawatir , baiklah bu"
letihku rasanya bertopang pada tubuh yang lemah ini, ku bawa kaki ini melangkah, toko buku itu membut langkahku terhenti. Nampak dari luar tak terusur tumpukan buku didalamnya, setelah masuk langsung saja debu-debu itu mengejar mangsanya, sontak kubersin-bersin dibuatnya. Penjaga toko buku ini tampak tak peduli, wajahnya juga lusuh seperti kalut dalam masalahnya sendiri. ya sudahlah, melangkah membawa diri, namun tak disangka,
 " K'....." suara itu ku kenali, lembut penuh arti. Bulan. Mataku mengekor sumber datangnya suara itu membawa tubuhku pada sosok semampai yang memegang buku tua, lusuh penuh debu. kontras sekali dengan wujud bahagia yang memegangnya, Bulan.
"dengan siapa kesini ? ade' apa kabar ? " ucapku dingin, ya seperti biasa tubuh ini tak pernah kuat menghampirinya bertemu sosoknya. 
"Sendiri, ya biasa lah dek kan emang suka sendiri kemanapun, kk sendiri?? eh baik seperti ini lah seperti yang kakak liat..hehe" tawanya menguatkan senyumku. 
"sendiri.." ucapku.
" aduh kak, bulan ingin lama-lama ngobrol sama kakak, tapi tugas memanggilku, seperti biasa kudu harus membahagiakan duni, adek duluan yach, sampai jumpa kakak." sayup kudengar langkahnya membawa tubuh itu pergi meninggalkanku. ku bahagia? yach pastinya. 
***
malam akan berakhir, beberapa jam lalu ku bahagia, namun itu seolah akan mengakhiri hidupku. tubuh begitu lemas, tak lagi kuat, langkah ini hanya gontai. ku sampai dikamar tanpa ibu tau. Terbaring sudah tubuh ini, sesak mulai membatasi nafasku, tubuh ini bergetar hebat, akupun lupa obat itu sudah habis. mungkin ini benar akan berakhir. 
" Bahagianya, duhh seneng dech, hayooo siapa nich yang mau ikutan bahagia malam ini" suara itu membantuku menemukan udara kembali.
" Aku ingin" lirihku, yang ku tau ia tak mungkin mendengar.
Tanganku mencari nomor telfon yang aku kenal, diradio ku dengar hanya senandung bahagia, lagu -lagu penghapus duka, pasti ia akan mengangkatnya.
" Assalamualaikum, kakak, tumben ada yang bisa dek bantu?"
"Alaikumsalam, gak boleh telfon ya?
"duh bukan gitu, abisnya tumben sich kakak nelfon ade', pas bener lagi de' nyampe rumah"
aku ingin menjawab tapi sesak baget, tangan ku bergetar nafasku tak lagi mampu kukendalikan apa ini akan berakhir, Ya Allah, jangan, aku tak ingin ia khawatir, jangan.
"Kakak kenapa, suaranya aneh, kakak sakit? sakit apa? udah minum obat? kakak ngomong donk"
suara itu resah, aku ingin menjawab namun benar-benar tak lagi kuat, tak lagi.
apa harus berakhir begini, di seberang sana ku dengar tangisannya, aku tak ingin begini, kenapa dia harus menangis. y allah mudahkan aku pergi hingga tak menyakiti dia yang disana.
"maaf" hanya itu yang keluar kucoba menguatkan tanganku menekan tombol keluar hingga memutuskan pembicaraan itu. Hingga berkali-kali dia kembali menelfon dan tak kuat ku mengangkat, tubuhku belum kuat, masih begitu rapuh, darah dari hidungku pun tak urung henti keluar. Ya Allah, aku tak ingin menyakiti hatinya, kuatkan aku ya Robb.
"Kak, kenapa? tolong bicara, adek gak kuat dengar k' begitu, k' dah minum obat?"
sms masuk.

Bersambung... ^_^


0 komentar:

Posting Komentar