5/03/2011

Puisi-puisi Ni Nyoman Ayu Suciartini

0

‘Binatang Jalang’ berlagu
Syair sederhana tentang kecintaanku pada Chairil Membaca kabar bayang penuh memori Rindu tak terduga lelap di pangkuanku Nada perjuanganmu lindap pelipisku Ilusi jemari dengungkan larikmu penuh gairah Deru tanda kelahiran tengah berlagu ‘sang binatang jalang’ sembunyikan sajak air matamu Menyibak rahasia senja yang makin tua   Melukis sisa hari. Menjemputmu pada sunyi Nafasmu terus berkumandang, hingga kau melagukan melodi prihatin Entah siapa lagi setelah , jalan jalang yang menuntunku Menyisir desir dalam risauku.



Riuh Chairil
Kebangkitannya dirayakan, riuh sedu sedan Berteriak lantang, hidup seratus tahun saat inginnya Di atas kertas murah, tumpah ruah sajak binatang jalang Pengagummu dari zaman telah menapak, bias kerikil yang tak terempas Memahami semu seuntai katamu Sajak penghibur lara menelanjangi resahku, resah atas kejalangan hidup Sang pengembara batin, matinya berkalang puisi, hanya untuk puisi 62 tahun kau masih menggema dalam tidur panjang, kematian yang menusuk kalbu Pun kau puja wanita melebihi tahta, melukis sketsa yang mengulum sendu Ke’aku’anmu bagai jelaga, koyakkan hidup yang tak sebenarnya, mati untuk berjuang.

Deklarasinya
Muda berapi dengan mata memerah Mengusik tidur serdadu lewat bringas sajaknya Lengkung senja dihiasnya mendekat Memberi tirus sedikit cahaya untuk berdiri Syair meradang, menerjang luka yang seolah mengepung Dalam hening memaki mimpi, terbaring tumpukan gebu angan Lama berbincang perih, menerkam derai pilu yang semakin keruh Melihatmu ada di setiap daun jendela Bersuara mengiringi sendalu dalam gelap Menyentuh debu lapuk yang kian usang Riak semangatmu dalam deklarasi, susup energi hingga pori-pori Deklarasi yang menggantung takut jadi kekuatan

Beranda Chairil
Bulir air mata itu terjatuh, rupa-rupa malam mengemas mendung Langit tidak utuh, karena separuhnya adalah berandamu  Hari ini berlagulah kembali, agar kami melihat pentasmu sesungguhnya Chairil yang tak pernah mati, menepuk kepenatan rindu Karet tak pernah memanggilnya, karena ia telah berkompromi Chairil hanya beristirahat, meminjamkan nafasnya untuk waktu yang datang Mengaum pasal kemanusiaan, kami tak berdaya untuk sesal Malam renta dayungkan sepi yang berisi Bunuh aku dalam beranda abadimu, pujangga   Tepi sudut mengenang Chairil Anwar, 28 April 2011

0 komentar:

Posting Komentar