8/27/2011

senja tak selamanya kelam

0

Diikutkan dalam lomba menulis cerpen islami oleh LAZUARDI BIRU
Tema: “Perjuangan di Jalan Allah”
                                                                             

                                                           SENJA TAK SELAMANYA KELAM
OLEH : NAWANG WULAN

            “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. ( H.R.Muslim no.4816)”

            Dimana aku, mukmin yang kuat atau lemahkah? Atau aku belum terhitung sebagai seorang mukmin? Sampai detik ini, detik usia terakhirku aku tak pernah tau mampukah aku menjadi umat yang kuat dan baik untuk dapat di cintai Allah.
            Aku seorang anak semata wayang seorang ustadz yang kesehariannya memberikan pengajian bagi ibu-ibu dan bapak-bapak di kampungku, desa Seberang Kota Jambi. Tempat yang senantiasa menjaga adat dan kaidah islam dalam tatanan masyarakatnya, yang menjadi pondasi utama desa ini.
            Aku lahir dan besar di sini, belajar dan tumbuh dalam lingkungan ini. Lingkungan yang indah, indah akhlaknya, indah ilmunya, indah persaudaraannya dan indah pula warnanya. Warna keislaman yang mengakar kokoh dalam relung jiwa masyarakat. Namun aku, merasa hampa dalam dunia yang penuh keindahan, dan di senja ini aku kembali melihat kelam yang nyata.
            Detik demi detik usia ku, menyadarkanku betapa sia-sianya hidupku. Di dunia yang diliputi cakrawala keindahan, aku terpuruk dalam senja, senja yang kelam. Menerawang jiwa menembus catatan buku dosa-dosa yang selama ini aku buat. Bukan penyesalan yang kutemui, namun aku mencari ,mencari cinta untukku.
            Sebagai anak seorang ustadz yang menjadi figur yang paling di hormati di kampung ini, aku hidup dibawah nama ayahku. Menderita? Sulit ku tafsirkan, karena kebenaran yang kupikirkan menjadi sebuah kesalahan yang sungguh menikam. Ayahku sosok yang keras, menurutnya aturan adalah pagar dan pagar harus berdiri kokoh di sini. Dan aku terjebak dalam kokohnya pagar itu.
            Kehidupanku berkecukupan, namun aku tak bahagia. Aku mencintai ayahku namun aku tak menyangka kasih sayangnya padaku hanya untuk dirinya. Aku dan hatiku terkekang dalam kasih sayang itu. Andai ada ibu disini, kehidupan ini mungkin akan berbeda, tak sekeras ini. Dan ayah tak akan seperti ini.
            Harapan dan doa hanya jadi seberkas cahaya yang mampu jadi penerang sementara dalam gelapku. Karena sejak hari itu, hanya kegelapan yang ada dalam diriku. Kata orang cinta mampu membuat dunia berwarna, cinta mampu menerangi kegelapan, namun kenapa cintakku membawaku pada kegelapan yang tiada bertepi.
            Sejak hari itu, aku bercerita tentang cinta kepada seorang ayah yang amat mencintai anaknya, namun ceritaku seperti bara api yang siap membakar seluruh isi bumi. Tiada kupahami hingga detik ini. Begitukah rasa sayang seorang ayah kepada anak gadisnya yang telah tumbuh dewasa? Aku mencoba memahami ayah dengan kekhawatirannya kepadaku. Namun aku tak pernah bisa memahami perasaanku, cintaku tak mampu ku bendung, berusahapun aku tak temui celah hatiku yang kosong, hanya dia, hanya namanya.
            Akhir desember itu, aku yang mengambil kuliah keperawatan mendapatkan tugas untuk praktek di sebuah rumah sakit yang di huni oleh orang-orang yang tak memiliki umur panjang, orang yang tengah menanti kematian. Yah, kami ditugaskan di sebuah rumah sakit swasta yang khusus merawat orang-orang yang mengidap penyakit kangker.
            Sesampainya di sana aku terlambat dan teman-temanku telah lebih dulu masuk, ketika hendak menyusul teman-temanku, aku berjumpa seorang laki-laki yang tengah duduk di kursi roda dan menatap kedepan dengan tatapan kosong. Iba dan perasaan yang tak mampu ku tafsir berkecamuk di dalam hati. Dia menyadari kehadiranku, menegurku lembut dan menanyakan tujuanku kemari. Dan spontan pertanyaan itu menyadarkanku dan membuatku harus cepat-cepat menemui teman-temanku yang telah lama menunggu. aku meninggalkannya dan sayangnya pertemuan ini tak berbekas indah, malah jadi seonggok cerita lucu yang menjadikanku konyol di hadapannya, inikah cinta itu?
            Berawal dari tugas yang diberikan suster untuk merawat pasien di kamar 1304 yang dari identitasnya ku tau dia bernama lengkap Naga wiradarma dan kangker yang dideritanya telah stadium akhir, selama perjalanan menuju kamarnya pikiranku diliputi dengan bagaimana sosok yang akan aku rawat selama 10 hari ini, bagaimana menghadapinya dan bagaimana dia bisa hidup dengan sisa umurnya yang dia tau tinggal menghitung hari.
            Langkahku terhenti ketika suster mengantarku mengataka bahwa ruangan yang tengah berada dihadapanku ini adalah kamarnya. Dengan dibimbing suster yang mengantarku aku masuk kekamar itu dan betapa terkejutnya diriku ketika yang berada di kamar itu adalah sosok yang tak asing kulihat. Dia laki-laki itu, yang menggetarkan hatiku, merusak akal sehatku dan telah mampu mengikis keimananku.
            Aku di perkenalkan suster kepadanya, sambil tersenyum aneh aku menjabat tangan laki-laki itu,dan dia menyebutkan namanya dengan lengkap. Suster meninggalkan kami, dan aku kembali bingung harus berbuat apa.
            Dia mengingatkanku jika sudah waktunya makan siang, dan aku dengan sigap membawa makanan untuknya dan menyuapinya, dan kontan membuatku gugup dihadapannya.namun dia mencairkan suasana dengan terus membuatku tersenyum dengan guyonannya. tak terasa begitu singkat perkenalan kami hari ini yang diawali dengan perbincangan yang ringan namun cukup membuatku mengenal sosok ini, cowok yang periang, humoris dan baik hati. Membuatku semakin jatuh hati padanya. Hari demi hari berlalu hingga hari terakhir kami bersama. Rutinitas seperti biasa ku lakukan, memberikannya sarapan, obat dan multivitamin.    Dan siang itu dia mengajakku kesuatu tempat, tepatnya di sudut rumah sakit yang berada di lantai teratas, kami naik menggunakan lip, dan aku mendorong kursi rodanya sesuai instruksinya sambil canda tawa menyelingi perjalanan singkat ini. Dan tibalah kami di tempat yang sangat indah, tak pernah terbayangkan olehku rumah sakit yang berada di sudut kota ini memiliki tempat seindah ini. Hamparan sawah di belakang rumah sakit yang di batasi beton dan tumbuhan pohon yang tinggi ini terpampang indah di ketinggian maksimal rumah sakit ini. Aku menanyakan padanya kenapa dia bisa tau tempat ini, dia berkata bahwa dulu dia ingin bunuh diri di sini,namun melihat keindahan tempat ini dia malu, dia takutdan dia ingat akan penciptanya Allah SWT. Yang senantiasa memperhatikannya. Dan sejak saat itu jika dia merasa kesepian dia akan kemari, karena dia yakin banyak malaikat yang menemaninya di sini.
            Aku terdiam dan menatap dalam sosoknya yang terduduk di kursi roda yang entah berapa lama. Ku ingin menggantikannya, meringankan penderitaannya, aku mencintainya. Dia menangkap wajah sedihku dan kembali membuatku tersenyum dengan candaannya. Itu terakhir kali kumelihatnya tersenyum, merasakan hangatnya pelukan itu, aku nyaman dan aku takut.
            Sejak perpisahan itu ayah menangkap perbedaanku, beliau menanyakan masalahku. Namun setelah cerita itu ayah tak lagi menegurku dan beliau melarangku untuk kembali ke rumah sakit itu, ayah terlihat benar-benar marah. Aku hanya mampu menuruti, dan ayah berulang kali meyakinkanku jika itu yang terbaik untukku.
            Semakin ku menahan semakin ku sakit, setelah ku siapkan kopi untuk ayah dan beliau berangkat mengajar aku pamit untuk belanja kepasar. Namun itu hanya alasan aku pergi k rumah sakit menemuinya betapa kagetnya aku ketika suster mengatakan jika aku tak bisa menemuinya karena itu permintaannya, aku tak terima dan memaksa masuk ke ruangannya. Aku terhenyak ketika kudapati dia terbaring di kasur dengan peralatan lengkap menopang hidupnya, aku tak tahan dan menitikkan air mata, melihatku dia membuang muka terpaksa,akubingung dengan sikapnya dan ku tau dari suster bahwa sebelumnya ayah datang menegur nya untuk tak lagi berhubungan dengan ku, aku kaget dan langsung memeluknya. Dia tak mampu menolakku, karena ku tau perasaan itu kuat tertancap disanubarinya.
            “ayahmu benar, aku hanya akan menyakitimu, karena umurku tak akan lama lagi”
Ucapan itu bagai petir dihatiku, dan aku benci kata-kata itu. Orang bilang semua orang berhak mencintai semua orang berhak dicintai. Kenapa ayahku begitu, tak inginkan anaknya mendapatkan cintanya. Aku tak terima dan tak akan pernah terima. Aku tak ingin kembali aku tak ingin pergi lagi. Hari itu ibunya datang bersama ayahnya dan beliau menjumpaiku di sana, betapa senangnya sosok itu. Dan banyak hal yang ia ceritakan perihal kekaguman Naga kepadaku, dan kujumpai kebahagiaan dan harapan yang besar di sana.
Aku hanya tersenyum, namun hatiku terus berperang benarkah ini,sampai ayah tau beliau sungguh sangat kecewa. Anak kebanggaannya, anak semata wayangnya tak lagi mematuhi aturannya. Aku kecewa pada diriku sendiri, apa yang kudapati di pesantren tak melekat dalam diriku, semua terkalahkan oleh rasa cinta yang seperti racun di pikiranku. Aku gila olehnya dan aku menyadari kebodohan ini, namun ini lah cintaku cinta abadiku.
Tak beberapa lama kemudian, ayah datang aku terkejut dan tak lagi dapat dibendung ayah sangat marah dan aku tak ingin melepaskan genggaman tangan Naga, yang saat ini menjadi penyemangatku. Namun ku merasakan genggaman itu perlahan melemah, dan ku temui sosok itu telah pergi, menitipkan seutas senyum untukku. Dan aku terpaku, tidak menerima kejadian ini, marah pada ayah dengan menuduhnya bahwa ini yang ia inginkan, dan aku berlari ke luar disusul ayah dan temanku yang memberitahukan keberadaanku.
Namun takdir menjemputku untuk menemui cintaku, dengan kencang mobil melintas menabrakku dan melemparku jauh ke pinggir jalan. Kutemui sosok ayah di detik terakhir, berderai air mata meminta maaf dariku. Ayahkah yang salah? Tidak ini mauku, ini dosaku dan ini jalanku?
Aku menghapus air matanya dan tersenyum, berkata aku akan menemui cintaku walau dalam kesalahan langkahku. Maafkan aku ayah. Aku menyayangimu.

“ aku temui seutas cinta di sudut senja yang tak selamanya kelam, hanya cinta yang mampu mengantarkan dua insan dalam dunia yang tak bertepi”

0 komentar:

Posting Komentar