Lomba Nubar Cerpen Nusantara


 

Tema : First Love 

Syarat dan Ketentuan :

  1. Niat
  2. Komitmen
  3. Naskah asli, No Plagiat!
  4. Naskah tidak mengndung SARA, LGBT, dan pornografi
  5. Naskah maksimal 6 halaman ( termasuk bionarasi )
  6. Bionarasi maksimal 50 kata
  7. Font TNR, 12pt, kertas A4, margin normal, paragaf  rata kanan-kiri (justify)
  8. Setiap peserta wajib membeli buku minimal 1 eks
  9. Benefit :

    • Juara 1 : Piala + Medali + E-sertifikat + Sertifikat cetak + Ganci
    • Juara 2 : Piala + Medali + E-sertifikat + Sertifikat cetak + Ganci
    • Juara 3 : Piala + Medali + E-sertifikat + Sertifikat cetak + Ganci
    • Seluruh peserta mendapatkan : Medali + E-sertifikat + Sertifikat cetak + Ganci
    • Buku ber-ISBN
    • Relasi
    • Jodoh (Kalo ada :v)

    Kontak Penyelenggara :083862855630 (Syifa)

MENGENAL UMSB SERTA URGENSINYA BAGI PENDIDIKAN DI SUMATERA BARAT

      Tepat pada tanggal 3 Rabi’ul Akhir 1375 H atau 18 November 1955 M Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) secara resmi didirikan, hal ini ditandai dengan diresmikannya Fakultas Falsafah dan Hukum di Padang Panjang oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah AR. Sutan Mansur, dengan rektor terpilih Dr. H. Ali Akbar. Pengembangan UMSB terus bergerilya menyuarakan kesungguhannya dalam menegakkan pendidikan di Sumatera Barat. Hal ini terbukti dengan berdirinya Akademi Kulliyatul Muballighin di tahun 1964 di Padang Panjang dimana tahun 1965 statusnya meningkat menjadi Fakultas Ilmu Agama Jurusan Dakwah. 

      Menurut sejarah UMSB pada tahun 1964 berdiri Akademi Niaga di Bukittinggi hingga tepat pada tanggal 20 Desember 1965 statusnya berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah. Terus terbang ke tahun 1965 berdirilah Fakultas Adab di Padang yang terdiri dari dua jurusan yaitu Jurusan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris meski melalui berbagai polemik namun tetap bertahan hingga pada tahun 1967 berubah menjadi Fakultas Syari’ah. Tidak berhenti disana pada tahun 1966 didirikan pula Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat di Bukittinggi, dan tahun 1967 selanjutnya didirikan pula Akademi Teknik di Sawahlunto meski juga mengalami kendala namun tetap bertahan hingga tahun 1968 dipindahkan ke Bukittinggi. 

       Melangkah lebih jauh ke tahun 1969 didirikan pula Fakultas Tarbiyah di Padang Panjang, dan tahun 1976 STIE Muhammadiyah berubah menjadi Akademi Manajemen dan Akuntansi (AMA). Selanjutnya pada tahun 1983 berdiri Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Padang Panjang. Belum usai sampai disana tepat pada tahun 1984 didirikan pula Fakultas Teknik di Bukittinggi yang merupakan mata rantai dari Akademi Teknik sebelumnya. Dan tahun 1984 berdiri Fakultas Pertanian di Payakumbuh. Namun berjarak 12 tahun setelah itu, seolah menjawab kebutuhan masyarakat, tepat pada tahun 1996 di Padang didirikan Fakultas Kehutanan.
        
        Dengan lahirnya ribuan sarjana muda dituntut pula UMSB mendirikan Program Pascasarjana, maka pada tahun 2002/2003 didirikan pula Program Pasca Sarjana dengan Program Studi Ilmu Agama Islam yang memiliki dua Konsentrasi yaitu Pendidikan Islam dan Hukum Islam. Berselang tiga tahun setelahnya pada 2005 di Bukittinggi berdiri Fakultas Kesehatan dan MIPA dengan Program Studi Manajemen Rumah Sakit, Ilmu Keperawatan serta program studi Kebidanan. Masih menjawab kebutuhan masyarakat Program Studi Usaha Perjalanan Wisata dan Perhotelan berdiri di padang pada tahun 2008 di bawah Fakultas Ekonomi. Namun kemudian pada tahun 2010 berubah status menjadi Fakultas Pariwisata yang berpusat di Bukittinggi. 

      Melampaui urutan waktu yang panjang dalam sejarah, seperti yang kita kenal UMSB yang merupakan gabungan (merger) beberapa Sekolah Tinggi Muhammadiyah di Sumatera Barat mampu menjawab dengan sigab kebutuhan pendidikan bagi warga khususnya Sumatera Barat. Namun tidak sedikit masyarakat Indonesia di berbagai pelosok daerah baik pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi juga dapat dengan nyaman mengenyam pendidikan di UMSB. Saat ini UMSB yang hadir untuk berperan serta dalam pembangunan nasional terutama dalam mencerdaskan bangsa kini tumbuh menjadi 11 Fakultas, dengan 25 Program Studi. 
    
        Dalam Sambutannya Rektor UMSB saat ini, Bapak Dr. Riki Saputra, MA, meyakinkan masyarakat bahwa UMSB senantiasa terus berorientasi pada pengembangan dan pembaruan (develop and reform) sebagai respon terhadap kebutuhan stakeholders (mahasiswa, orangtua mahasiswa, masyarakat profesi dan masyarakat pengguna lulusan) dan hasil akhirnya mampu melahirkan manusia berpendidikan yang berkarakter Inovator, Mandiri, Unggul dan Rendah Hati. Dengan tegas Dr. Riki Saputra, MA menyampaikan bahwa Penguatan institusi (institutional strengthening) terus akan di lakukan secara berkelanjutan melalui jejaring kerjasama dengan institusi perguruan tinggi (PTN/PTS), pemerintah maupun swasta baik di dalam negeri maupun luar negeri, sehingga pengakuan terhadap eksistensi Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat dalam lingkup regional, nasional dan internasional tetap terpelihara dengan baik. 

       Hal ini terbukti tepat pada tahun 2020, UMSB meraih peringkat ke-3 Perguruan Tinggi Swasta terbaik se-Sumatera Barat, dan Peringkat ke-10 Perguruan Tinggi Swasta terbaik se-Sumatera, Riau, Jambi dan Kepri. Pencapaian UMSB ini, selaras dengan kesuksesan output Sumber Daya Manusia yang telah menuntaskan pendidikannya di UMSB. Tercatat sejumlah Alumni UMSB meraih gelar Doktor, mencalonkan diri sebagai Anggota Legislatif, terpilih menjadi pemimpin beberapa ormas Islam, serta pencapaian-pencapaian lain yang menggairahkan di dunia pendidikan, politik, sosial dan ekonomi khususnya Sumatera Barat, dan Indonesia pada umumnya. 

     Untuk itu, menilai urgensi keberadaan UMSB di tengah masyarakat Sumatera Barat dan di Indonesia, tidak akan lepas dari catatan prestasi, capaian kesuksesan Alumni UMSB serta giat Dosen dan Guru Besar UMSB yang senantiasa menunjukkan keberhasilannya di tengah-tengah masyarakat. 

Oleh : Wulandari, S.Pd.I || Mahasiswa Pascasarjana UMSB

AWAL 2021 AKSI TERORISME KEMBALI MENGGUNCANG DUNIA, MUHAMMADIYAH IKUT SIAGA

        Dunia kembali diguncang. Tepat pada tanggal 24 Januari 2021, sejumlah teroris kembali membom Bandara Internasional Domodedovo Moskow, Rusia, yang menewaskan 35 orang. Dikutip dari History bahwa Kaukasus Emirate, sebuah kelompok jihadis militan yang berbasis di Chechnya, mengklaim bertanggung jawab, menambah serangkaian serangan teroris yang berasal dari daerah konflik di wilayah Kaukasia Rusia. Sedikitnya 175 orang mengalami luka-luka akibat peristiwa berdarah itu 
    
     Tidak sampai disana, tepat pada Minggu, 31 Januari 2021 sebuah bom meledak di Mogadishu, Somalia. Kelompok bersenjata menyerang sebuah hotel Afrik di Mogadishu disusul aksi pengeboman dengan mobil di pintu masuk hotel dan berakhir dengan aksi baku tembak. Dikabarkan 3 orang tewas dalam kejadian tersebut dan sejumlah orang mengalami luka-luka. 

     Seolah tidak ada waktu untuk merehatkan mata, mengendorkan kesiagaan, dan berbenah diri menghadapi tahap baru dunia selama menghadapi Pandemi Covid-19. Tahun 2021 dibuka dengan berita duka Dunia yang tidak hanya berasal dari fenomena alam, musibah banjir, gempa, longsor dan lain sebagainya, namun terorisme masih gemar mengguncang nurani kita. Berita ini menjadi kegelisahan kita bersama, untuk itu sejumlah teknis kebijakan dalam menghadapinya baik dari pemerintah, organisasi masa merupakan pundi-pundi harapan kita. 

     Menjawab kegelisahan kita bersama, Presiden RI, Bapak Joko Widodo melayangkan Peraturan Presiden No. 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang mengarah pada terorisme. Melalui peraturan ini Presiden seperti memberi angin segar bagi warga negaranya, bahwasanya kini pemerintah tidak lagi tutup mata dengan doktrin-doktrin radikalisme, namun sudah jauh lebih tegas dengan aksi yang di layangkannya. Tidak hanya aparat negara dan hukum, Perpres ini juga menjadi landasan hukum bagi masyarakat sipil untuk turut andil dengan berperan aktif dalam menghadapi gelombang ekstremisme yang terus menggelisahkan negeri ini. 

        Terkait terorisme di Indonesia sendiri, tanggal 31 Januari 2021 lalu, 5 Teroris ditangkap Densus 88 di Aceh, salah satunya ASN. Hal ini membuktikan bahwa saat ini ASN, pegawai swasta, pekerja buruh, mahasiswa, sampai pelajarpun tidak luput dari ideology impor ini. Mungkin efek samping awalnya hanyalah sikap intoleransi dan eksklusif terhadap kelompok yang berbeda. Namun lebih jauh efek samping itu bukan tidak mungkin berlanjut menjadi sikap ekstrem. Sejauh ini, tentu kita dituntut untuk kembali menyadari bahwa akal sehat dalam beragama itu sangat dibutuhkan. 

     Hal ini tentu menjadi koreksi kita bersama bahwa sepatutnya kita tidak hanya perlu membuka wawasan berpikir, namun juga perlu menggali lebih dalam cakrawala islam yang ada pada diri kita, dengan terus belajar, dan membaca untuk dapat menegakkan dengan benar nilai Islam itu sendiri. Tidak hanya pemerintah, Muhammadiyah selaku bagian yang merumuskan, menentukan dan menjaga NKRI serta Pancasila turut ambil bagian dalam pencegahan paham radikalisme melalui sektor eksternal dan internal. 

    Melalui sektor internal Muhammadiyah menginstruksikan seluruh ranah struktural untuk meneguhkan ideologi Islam berkemajuan dan mewujudkan Darul Ahdi wa Syahdah. Ortom-ortom (organisasi otonom) Muhammadiyah juga turut serta memperkuat basis kaderisasi dengan pembinaan yang humanis. Selain itu juga Muhammadiyah menekankan kepada lembaga-lembaga dan majelis-majelis pemberdayaan umat melalui sektor Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), salah satunya kegiatan Madrasah Perempuan Berkemajuan (MPB) yang merupakan salah satu inisiasi PP Aisyiyah. Di sini, doktrin – doktrin inti seperti pemaknaan jiad, khilafah serta Darul Ahdi wa Syahdah mengisi tiap penjuru sekolah, pesantren, panti asuhan, majelis-majelis hingga perguruan tinggi yang di miliki Muhammadiyah. Di sektor eksternal Muhammadiyah menekankan pandangan Islam berkemajuan serta mengaktualisasikan Darul Ahdi wa Syahadah melalui dialog-dialog keutamaan, kemanusiaan lintas Agama serta peradaban, baik dalam skala nasional maupun internasional. 

         Dalam merespon pola penanganan dan penanggulangan radikalisme serta terorisme yang terjadi diindonesia, Muhammadiyah memilih Moderasi. Dimana ini merupakan cara lain yang di pilih Muhammadiyah guna membasmi paham radikalisme dan terorisme dengan memperhatikan prinsip-prinsip kemanusiaan yang hakiki. Karena Muhammadiyah telah menolak dengan tegas Deradikalisasi yang diusung Pemerintahan, karena dinilai cara yang digunakan terlalu ekstrem. Karena ketika konsep keliru maka akan berdampak pada implementasinya.

     Dalam Surah An Nisa’ ayat 59 ditegaskan “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” 

         Hal ini senada dengan gagasan Prof. Haedar Nashir yang merupakan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah. Beliau menyampaikan bahwa moderasi sebagai salah satu konsep kunci dalam Islam untuk memberikan solusi ideal dan praktis dalam mengembangkan posisi Islam di Indonesia serta kontrol terhadap kehidupan bermasyarakat. Moderasi Islam menjadi jawaban bagi radikalisme sebagai satu dari keterancaman bagi integrasi Indonesia. Moderasi menyediakan ruang sosiologis untuk menempatkan agama sebagai ajaran yang positif dan memiliki fungsi penting dalam kehidupan keindonesiaan serta menjadi sumber nilai utama yang fundamental sebagai kekuatan yang luhur serta memuliakan umat manusia yang berperikemanusiaan. 

        Pada penyebarannya, Islam membawa kedamaian yang bersifat sosial kultural, hal ini menjadi alasan mengapa Islam menjadi agama besar di Indonesia. Islam mengakomodasi perubahan dan tuntunan zaman dalam proses akulturasinya, tanpa menghilangkan prinsip dan esensi ajaran. Untuk mengakui dan mengamalkan nilai-nilai universal tadi, maka stigma yang berlaku bagi Islam dengan sendirinya akan hilang bukan hanya secara nasional. Dari wajah moderasi Islam Indonesia kita menunjukkan pada dunia global bahwa moderasi Islam adalah wujud wajah ramah Islam di Indonesia. Moderasi keindoneisaan ini merupakan solusi terhadap persoalan radikalisme yang berujung pada terorisme di Indonesia. 

        Beberapa kasus yang kita baca diawal menjadi momok bukan hanya bagi bangsa Indonesia, namun menjadi ancaman terhadap nasib kemanusiaan di Dunia. Maka penting untuk ditarik pada posisi moderat, posisi tengahan dan proporsional mengenai kehidupan kebangsaan. Sehingga, kekerasan dan ekstremisme dapat diminimalisasi bahkan dibumihanguskan di tubuh bangsa dan negara Indonesia hinga Dunia. 

 Wulandari, S.Pd.I || Mahasiswa Pascasarjana UMSB

Alhamdulillah, Hari itu akan tiba..

Alhamdulillah, tepat 27 November 2015, duduklah dua keluarga kami
menentukan waktu yang baik bagi kami
meski kehilangan yang terasa belumlah terobati
hanya berikhlas atas kepergian mereka, serta bersyukur dapat penuhi ingin mereka

Semoga sampai pada hari yang baik itu, kebaikan menyertai langkah kami..
Ya Allah yang maha baik, pemilik alam seisinya, perencana yang sempurna...
izinkan kami menjadi bagian kisah indah-Mu
Aamiin...

About Me

Foto saya
Perempuan Muslim, yang pedulih bahwa cinta dan kasih itu penting bagi umat manusia